Desa Kemuning di lereng Gunung Lawu tidak hanya dikenal dengan panorama alamnya yang menyejukkan, tetapi juga sebagai surga kuliner tradisional yang menyimpan kekayaan rasa khas pedesaan Jawa. Setiap hidangan di Kemuning bukan sekadar makanan, melainkan warisan budaya yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Berkunjung ke Kemuning belum lengkap tanpa mencicipi aneka sajian tradisionalnya.
Tiwul dan gatot merupakan makanan pokok tradisional berbahan dasar singkong yang masih lestari di Kemuning. Rasanya gurih dan mengenyangkan, sering disajikan bersama parutan kelapa dan gula jawa.
Pecel khas Kemuning memiliki cita rasa bumbu kacang yang lebih pekat dan gurih, disajikan dengan aneka sayuran segar dari kebun warga.
Salah satu kuliner khas kawasan Gunung Lawu yang banyak ditemukan di Kemuning. Daging kelinci yang empuk dibakar dengan bumbu rempah khas, menghasilkan aroma dan rasa yang menggugah selera.
Bothok dan pepes menjadi menu rumahan favorit yang dibungkus daun pisang dengan bumbu rempah tradisional, menciptakan aroma khas yang lezat.
Jadah bakar terbuat dari ketan yang dipanggang lalu disajikan dengan parutan kelapa atau sambal gula merah. Cocok dinikmati saat udara dingin pegunungan.
Minuman hangat seperti wedang jahe dan teh hasil perkebunan Kemuning menjadi pelengkap sempurna saat menikmati suasana sejuk Lawu.
Beragam jajanan seperti klepon, cenil, lupis, gethuk, dan apem dapat ditemukan di pasar tradisional dan warung desa.
Makanan tradisional Kemuning mencerminkan kearifan lokal: kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam. Setiap bahan diambil dari lingkungan sekitar dan diolah dengan cara alami tanpa bahan pengawet.